natashya claudia

delutional.

Ada saatnya, esok.

Ada saat di mana saya tidak lagi mengerti apa makna mengenai waktu.
Ada saat di mana saya tidak lagi mengerti apa maksud dari bahagia tanpa alasan.
Ada saat di mana saya tidak lagi mengerti apa arti dari sebuah bersama.

Hati yang patah,
Langkah yang tidak lagi terarah,
Dan tenaga yang mulai punah.

Saya mengejar apa yang harus saya kejar,
Karena di tiap mimpi, saya harus berlari.
Tidak lagi bisa sejenak bersandar,
atau sekedar merebahkan kepala untuk menopang lelah yang terlantar.

Sabar,
saya lebih sabar dari apapun kata orang-orang,
dari sepi yang kadang menyelimuti,
dari rindu yang kadang tidak terobati.

Setiap nafas yang terhela,
setiap kaki yang menapak,
suatu saat akan berhenti.

Saya tidak punya waktu untuk berkeluh,
bahkan di saat saya merasa saya patut untuk berkeluh.
Saya tidak punya waktu untuk menuntut,
bahkan di saat saya tahu saya berhak untuk menuntut.

Tempat saya sempit,
Ruang saya berbatas,
Saya tidak lagi bisa bergerak sebebas angin,
yang membawa hujan,
yang menghantarkan risau untuk pulang ke asalnya.

Senyum itu adalah diam.
Saya tidak lagi berkata-kata,
Saya tidak lagi bercerita,
Saya tidak lagi berbicara.

Karena apa yang saya mau,
sudah banyak terlupa,
melebur menjadi debu,
bersama-sama dengan udara.

Ada pesan yang tidak pernah terucap,
bahwa segala-galanya saya,
adalah mendekap pada mimpi,
yang satu-satunya menjadi alasan saya berdiri,
yang tidak sanggup saya pegang sendiri,
yang sebagian saya serahkan kepada pemilih hati.

Kepada kamu,
yang seharusnya lebih mengerti,
yang mengajak saya pergi,
bersama-sama melukis langit,
tidak hanya dengan imajinasi.

Namun,
saya paham,
bahwa hidup adalah mengenai beberapa bagian yang harus diselesaikan setelah dimulai,
dan saya hanyalah bagian kecil,
dari seluruh keinginan-keinginan menggebu,
yang menjadi kesekian untuk diciptakan.

Esok,
hari yang selalu disebut dengan harapan,
harapan untuk mengulang waktu,
waktu yang terbuang dengan sebuah kesalahan,
kesalahan yang diganti dengan sebuah pembenaran.

Semoga esok,
lebih teduh dari hari ini,
atau pun kemarin.

Semoga esok,
saya masih baik-baik saja.

Semoga esok,
mereka, dan kamu mengerti,
bahwa saya tidak memiliki banyak waktu lagi.

by: @natashyaclaudia

Advertisements

Aku Ingin

Aku ingin berada di pelukanmu,
menutup mata,
merasakan degupan jantungmu,
merasakan nafas terlemahmu,
memendamkan kepalaku,
dan melupakan saat-saat terpahit masa lalu.

Mengijinkan hati mencicipi cinta yang baru,
mempercayakan logika memilih rasa yang baru,
memberanikan diri
untuk menetapkan kepastian pada perasaan tidak ingin kehilangan.

Aku ingin memeluk,
mendekap,
merekatkan diri.
Menjadikan kamu
seutuhnya yang memiliki.

-by: @natashyaclaudia

Diorama.

Ini benar-benar jatuh cinta atau hanya sekedar diorama?

Entah apa istilahnya, namun saya terjebak di antara keduanya.

Saya ingat, bagaimana mimpi menjadi salah satu alasan saya menemukanmu, memilihmu dari sekian banyak hal yang saya ijinkan terjadi di hidup saya.

Namun saya merentangkan waktu, membiarkan hari-hari yang berlalu memperlihatkan bagaimana hati saya menetapkan keinginannya.

Melihatmu, merasakan rindu, mempersilahkan perasaan-perasaan asing bertamu, hingga sampai pada titik akhir yang disebut kebimbangan.

Saya tidak tau bagaimana menjadi seutuhnya saya jika berada di dekatmu, rasanya sulit untuk membiarkan dirimu mengetahui bagian-bagian terlemah dari diri saya, atau hanya sekedar perasaan-perasaan bodoh yang saya rasakan karena jatuh cinta.

Saya butuh kamu lebih dari yang kamu tau. Lebih dari sekedar memperjuangkan mimpi, lebih dari sekedar jatuh cinta tanpa alasan yang pasti, lebih dari sekedar bagaimana kita saling menjaga kebebasan masing-masing diri, lebih dari sekedar kerja keras kita untuk mewujudkan imajinasi, dan lebih dari sekedar obrolan singkat kita di malam hari.

Memilih untuk hidup berdampingan dengan yang dicintai, itu berarti, menjadikan ia seorang teman untuk berbagi, sahabat untuk berargumentasi, saudara untuk saling mengasihi, seseorang yang dihormati untuk tetap menjaga diri, seseorang yang dikagumi untuk menjadi penyemangat hari, dan rumah untuk setiap kepulangan hati ketika merasa sepi.

Mungkin salah saya terlalu menahan sendu, tidak ingin mengacaukan ekspektasimu, tidak ingin terlihat egois di matamu, tidak ingin terlihat sebagai wanita lemah dipikiranmu. Saya ingin selalu terlihat seperti apa yang kamu mau, seperti apa yang sudah kamu tau. Seperti seseorang yang berbeda dengan yang lainnya, yang melihatmu apa adanya, persis seperti yang kamu sebutkan dahulu.

Saya bukan penuntut, tapi saya sadar, hati ini sudah lama tidak ada yang menempati, dan kamu datang untuk mengisi. Tapi, ini yang saya takutkan mengenai mencintai, saya akan memberikan seutuhnya, atau tidak sama sekali.

Dan saya berani meletakkan kaki, di jalan yang belum pernah saya hampiri. Mengenal dari ulang lagi, bagaimana cinta bisa merubah diri, bagaimana ruang yang kosong menjadi hidup kembali.

Saya perlu kamu di sisi, saya perlu kamu di sini, untuk membuat saya percaya, bahwa kita bukan hanya sekedar bertukar perasaan cinta, bukan hanya sekedar saling menggenggam namun tetap berjalan pada masing-masing tujuannya.

Tapi ini mengenai, menyatukan dua dunia yang tidak begitu berbeda, namun juga tidak seutuhnya sama. Maka, biarkan saya untuk mengenalmu lebih dalam lagi, mencintaimu dengan cara saya sendiri, dan pelan-pelan mentolerir beberapa hal dari diri kamu yang tidak saya sukai. Karena dengan begitu, saya tau, bahwa kamu menempatkan saya lebih dalam dari yang sebelum-sebelumnya, dan membiarkan saya perlahan-lahan membuka diri, menjadi seutuhnya diri saya sendiri.

“Kamu dan saya itu bukan diorama, bukan sekedar kisah statis tiga dimensi dari pengelihatan mata. Tapi dua orang yang saling jatuh cinta, berjuang dengan mimpinya, namun lupa bagaimana caranya memperlakukan masing-masing rasa.”

-by: @natashyaclaudia

 

Kita (ada)lah seni.

Ada yang tidak diketahui oleh banyak orang,
Kita,
Kita yang berbeda dengan dunia.

Yang menjalani hidup bukan hanya sebatas meraup hasil dari kepentingan yang lainnya,
Yang menjalani hidup bukan hanya tentang menunggu untuk diangkat menjadi yang paling tinggi dari sebuah prestasi,
Yang menjalani hidup bukan hanya sekedar interaksi untuk saling membodohi.

Yang lain berteriak meminta keadilan,
Kita bertindak layaknya mencari makna adil untuk diri sendiri.
Kita bersuara menyerukan keinginan-keinginan kita yang tertindas, hanya karena beberapa orang berkuasa atas nama logika yang kandas.

Kita bukan hidup untuk kesenangan sendiri, tapi bukan juga terus-terusan menyerahkan seluruh bagian dari diri untuk mereka yang membebani.
Kita bukan seutuhnya pemimpi,
tapi ini mengenai mewujudkan harapan yang pelan-pelan terkikis evolusi.

Tidak banyak yang paham arti dari kerasnya kepala kita, atau bagaimana idealisme membentuk konsistensi dari sesuatu yang orang-orang sebut hanyalah sebuah imajinasi.

Kita tidak bungkam hasrat,
Atau pura-pura jatuh cinta dengan dunia.
Kita menciptakan ruang,
Bukan merampasnya dari tangan-tangan pembuatnya.
Kita mencari jalan,
Bukan meletakkan kaki, lalu berjalan seolah-olah kita yang menemukannya.

Kebebasan bergerak adalah kita.
Kita yang dibedakan oleh otak-otak penjilat,
Kita yang diasingkan oleh sistematika.

Mereka bilang, kita tidak sama.
Mereka bilang, kita tidak patuh pada realita.
Mereka bilang, kita pembangkang.
Mereka bilang, kita hanya manusia bodoh yang tunduk pada angan-angan.

Kita tidak sempat mengucap pembelaan,
Tidak saat ini,
Tidak juga esok hari.
Dan terkadang, tidak pula ketika kita sudah mati.

Tapi semesta menjadikan kita satu-satunya yang memelihara keseimbangan bumi,
Menebar warna dalam setiap makna,
Mengukir pelangi dalam setiap sunyi.

Dan mereka, hanyalah mereka,
Yang butuh matahari,
Yang butuh hujan,
Yang butuh dunia untuk melengkapi.

Sedangkan kita,
Menyelami harga dari sebuah diri,
Tanpa harus bertanya,
Berapa lama lagi aku harus terjebak dalam kenyataan yang terlalu dini?

Kita adalah seni,
yang memilih meluapkan emosi dengan inspirasi.

 

“Karena seni
adalah sebenar-benarnya mencintai.”

by: @natashyaclaudia

Surat untukmu, kekasihku.

Apa yang lebih dalam dari sekedar kata cinta?
Jawabanya itu, kamu.

Kamu pria yang pertama aku cintai dan niatku untuk yang terakhir kali.

Aku cukup bosan ketika setiap kali aku menyadari bahwa kamu adalah satu-satunya yang membuat aku sadar perihal akan jatuh cinta, dan ternyata aku bukan satu-satunya yang mengenalkanmu mengenai hal itu juga.

Tapi, persetan dengan masa lalumu, persetan dengan mantan-mantan terindahmu, atau dengan perempuan-perempuan yang pernah ada di dalam benakmu.
Jujur, memikirkannya saja, aku sudah muak sampai-sampai harus terbuang ke dalam mimpi di setiap malam-malam panjangku.
Untukku, jika kamu memang memilihku untuk menjadi tujuan terakhir setelah persinggahan-persinggahan sesaatmu, itu lebih dari sekedar perasaan bahagia.

Kamu memang selalu keras kepala dan egoismu selalu memenangkan kesedihanku yang kamu abaikan.
Air mataku jatuh, di setiap bentakan dan tidak pedulinya mulutmu untuk berkata manis, demi tidak menyakiti perasaanku.
Untungnya, dadamu dan punggungmu selalu menopang kepalaku di setiap beban-beban terberat yang tidak dapat kutanggung seorang diri.
Dan keringatmu menandakan kamu sanggup untuk mengangkatku di setiap jatuh.

Aku mengenalmu sebagai pria yang pemalu, tapi sayangnya dari awal aku memang sudah ragu.
Karena cara-cara anehmu yang sengaja membuat tawaku selalu menyapa bahkan di hari-hari terburukku, membuatku perlahan-lahan memahami satu hal tentang dirimu.
Kamu pria yang mengandalkan candaan konyolmu untuk menarik perhatianku.
Ya, aku paham tipe pria sepertimu.

Tapi, bukan karena itu aku mencintaimu.
Bukan karena itu aku kagum dan mulai tertarik padamu.

Ketika waktu sudah mulai menjelaskan sifat-sifat burukmu, aku mulai merasakan hal yang berbeda.
Hal yang terlihat tidak asing.
Hal yang terasa akrab.

Dan aku menyadari, aku memiliki hal yang tidak jauh berbeda dengan kepribadianmu.
Itu yang membuatku semakin terasa dekat denganmu.

Hai, pria yang selalu bilang cinta, apa kamu tidak pernah sadar?
Kamu mengumbar terlalu banyak perasaan daripada realita.
Tapi, itu yang aku suka.

Aku perempuan rumit dengan jutaan pemikiran akan kemungkinan-kemungkinan tentang kita, dan hanya dengan sekejap pelukan hangat darimu, sudah bisa menutup rapat-rapat kekhawatiranku.

Ya, kamu pria yang semakin hari semakin mudah untuk dicintai, tapi semakin sulit untuk dimengerti.
Kamu memiliki tangan yang kuat untuk menggenggam erat kelima jariku dan pundak yang nyaman untuk meletakkan semua kejenuhanku.

Maaf, jika kerap kali aku membuatmu jengkel akan satu dua perkara, mungkin aku hanya terbawa emosi sesaatku, yang sebenarnya hanya takut akan kehilangamu.

Kamu, pria dengan senyum yang manis, bolehkah aku untuk menemanimu hingga habis masa muda dan sama-sama menyambut tua?
Jika iya, ijinkan aku mengecup dahimu, ketika kamu sudah selesai membaca habis tulisanku ini.
Dan katakan kamu mencintaku, sebagai tanda persetujuanmu untuk selalu bersama-sama denganku.

Aku tidak keberatan menghabiskan sisa-sisa umurku dengan pria menyebalkan sekaligus menyenangkan sepertimu, karena kamu, sudah menjadi pilihan hatiku.

Jadi, apakah kamu juga akan memilihku, sampai berpuluh-puluh tahun lagi?

Aku cinta kamu.
Sesederhana itu cinta mewakili perasaanku dan tujuanku untuk selalu bersama denganmu.

by: @natashyaclaudia

Aku, pejuang imajinasi

Aku punya mimpi,
Tingginya lebih dari langit di atas awan.
Luasnya lebih dari batas bumi yang berputar.

Aku berjalan,
Mencari letak,
Mencari titik,
Mencari pusat untuk merekat.

Aku melebur dengan kerumunan,
Mengurai kata demi kata,
Menghabiskan tenaga,
Tenggelam dalam logika realita.

Aku mendengar,
Aku merasa,
Aku menghilang dalam ramainya siang dan dinginnya malam.
Sampai aku tersungkur,
Jatuh dalam putus,
Dan asa yang melambaikan salam sampai jumpa.

Aku menangis,
Meminta pertanggungjawaban,
Meminta kembali harapan,
Meminta sebuah genggaman,
Agar sanggup tulang ini bergerak,
setelah patah karena luka.

Aku menjadi rindu,
Rindu ingin pulang,
Kepada rumah,
Kepada rintik di musim hujan,
Kepada matahari di musim kemarau.
Kepada tangan yang membentang,
Kepada hasrat yang menggebu.

Aku dan keinginanku,
Ternyata tidak pernah menjadi debu,
Tidak pernah merapuh menjadi abu.

Aku itu warna yang membias.
Tidak semua manusia bisa melihatnya dengan mata.

Aku dan waktu,
Membiarkan jiwa yang meluruh,
Kembali merangkai cerita.
Mengisahkan ulang mengenai makna,
Mereka-reka arti dari diri.
Sehingga mata membuka kelopaknya,
Dan kembali menengadah pada angkasa.

Aku mengambil nafas,
Dan segelas air dari vas.
Kutumpahkan di atas kepala,
Kubiarkan mengalir sampai menyentuh ke tanah.

Ini sudah saatnya untuk berlari,
Meski harus menapaki kerikil berkilo-kilo lagi.

Aku dan mimpi,
Bukan mereka dan segala buaian dunia.
Aku dan imajinasi,
Bukan mereka yang terbawa arus realita.

Manusia memang diciptakan dengan pengelihatan yang tak sempurna,
Namun aku,
Memilih untuk merangkak dengan semesta,
Membiarkan segala sesuatu yang telah disediakan-Nya,
Menjadi bunga di tengah gurun sahara.

 

 

Aku akan sampai ke tempat tujuan,
Tempat di mana mimpi,
Bukan lagi menjadi sekedar angan-angan yang kesekian.

by: @natashyaclaudia

Aku Ingin Berlari Dan Memeluk Sangkakala

Kamu seperti kunang-kunang, pergi hingga ladang cahaya hanyalah sebuah garis lurus yang gelap gulita.
Tanpa gemerlap warna seperti matahari, sekaligus bulan yang menampakkan seluruh tubuhnya.
Tidak juga ada udara, yang berjalan menuju tanda-tanda surga.
Hanya embun yang melayang, menapakkan jalan ke tanah kering tanpa noda.

Adakah malaikat dengan tongkat emas, menerbangkan jauh duka cita, dan digantinya dengan sapuan air mata?
Detik-detik temaran mulai digoyahkan sangkakala.
Ini bukan saatnya ratap menangisi kuburan sendiri.
Karena rusa dengan pedangnya, menunggu dengan gagah untuk menyatakan kemenangan atas sekedar egonya.

Tidak banyak waktu berkonklusi dengan logika.
Seperti badai yang melupakan tirai kilatnya.
Atau seperti mimpi yang meninggalkan imajinasinya.
Berdiri atau berlari, itu sama saja.
Asal otot ini mampu mengangkat berkilo-kilo batu yang menjadi beku.

Tuhan itu selalu punya andil, termasuk mengubah durja menjadi pelangi di atas antariksa.
Sampaikan salamku untuk harapan, jangan sampai ikut-ikutan mati karena hujan yang menyandera keinginan untuk membebaskan diri.
Api tanpa oksigen, sama saja seperti manusia tanpa Ilahi.
Tapi jika dunia ini diciptakan hanya semata-mata untuk menyenangkan hati-Nya, maka Dia, tidak akan pernah kehabisan cara untuk membuat seisinya berbahagia.

-by: @natashyaclaudia

K e dua.

 

tumblr_lcr9ggfOyE1qz80cmo1_1280

source: jornalismodeboteco.com

Hari ini hari Minggu. Seperti biasa, aku pergi ke tempat yang beberapa bulan ini kukunjungi, saat aku rindu dengan orang yang sangat kucintai, Papa. Siang ini terasa ramai. Aku menunggu bis dengan keringat yang mengucur dari dahi hingga leherku. Tak pernah selama ini, aku pikir aku harus lebih lama bersabar lagi.

15 menit kemudian bis yang kunanti akhirnya tiba. Seperti yang telah kuduga, banyak sekali penumpang di dalamnya. Aku pun masuk, mencari tempat yang paling memungkinkan untuk berdiri dengan nyaman. Walaupun aku sulit bernafas karena terlalu banyak orang yang berhimpitan, aku selalu senang menikmati perjalanan. Melihat keluar jendela walaupun terhalang, membuatku semakin tak sabar sampai ke tempat tujuan. Aku melihat ke sekeliling bis. Sesak dengan orang-orang yang saling tak mengenal satu dan lainnya.

Sampai tiba-tiba, pandanganku tertuju pada satu laki-laki di bagian belakang bis yang cukup menarik perhatianku. Ia tersenyum ke arah kaca, sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya sedang menikmati lagu yang tersambung ke dalam headset yang ia pakai pada kedua telinganya. Terlihat jelas pemandangan dari luar bis yang terpantul lewat kacamata yang ia gunakan.

Sejenak aku ikut menikmati apa yang sedang ia nikmati, sampai aku mendecakkan sedikit tawa di dalam diri. Ada yang lucu. Bis ini sangat panas, tapi ia memakai jaket denim biru berserta flannel kotak-kotak merah yang melekat pada tubuhnya. Mungkin ia terlalu tenggelam dalam duniannya. Ketika orang-orang lain mengeluh dan menunjukkan ekspresi lelah, ia tetap bertahan pada posisinya, tanpa merubah apapun yang menempel pada tubuhnya. Aneh. Tapi, aku suka.

Ia pun merogoh sesuatu dalam tas yang ia selempangkan. Mengambil handphone, melihatnya sejenak, dan memasukkannya lagi ke dalam tasnya. Seketika raut mukanya berubah. Tidak lagi tersenyum.

Ada apa? Tanyaku dalam hati.

Lalu penumpang di sebelahku membuyarkan lamunanku.

“Mbak-mbak, maaf, saya sebentar lagi mau turun, boleh geser sedikit?”

Aku pun menjawab, “Oh iya, maaf, silakan.”

Aku menggeser tubuhku dan mendapati ada bangku kosong untukku tempati, karena beberapa penumpang yang sedari tadi duduk, telah berdiri untuk bersiap-siap turun di halte selanjutnya. Aku pun meletakkan tubuhku, pada bangku di samping jendela. Lega rasanya.

Tak lama, bis pun berhenti di depan halte. Para penumpang grasak grusuk berlomba-lomba keluar dari bis. Tapi tidak termasuk aku. Ini bukan halte tujuanku. Tempat yang kutuju masih lumayan jauh. Sekitar 30 menit lagi. Aku melihat jam tangan, sudah terlambat satu jam. Kasihan, Papa pasti menunggu terlalu lama, batinku. Aku mengehela napas, lalu tidak sengaja mengarahkan pandanganku pada kaca sepion tengah yang terletak di dalam bis.

Laki-laki itu sudah menghilang. Mungkin ia turun di halte tadi. Hm, sayang sekali.

Entahlah. Ada sedikit rasa aneh yang menjejal setelah tau bahwa aku tidak lagi dapat diam-diam melihatnya.

***

30 menit lebih berlalu. Aku sampai di tempat tujuanku.

Ruangan Papa selalu harum baunya. Aku selalu mengganti bunga pada vas di ruangan ini setiap 2 minggu sekali dengan mawar merah muda. Bunga yang selalu kutanam sejak kecil bersama-sama dengan Papa di halaman rumah.

“Papaaaaaa. Maaf aku telat. Tadi tumben banget bisnya lama terus penuh. Kita jalan-jalan keliling yuk.” Ujarku dengan semangat.

Papa menyambutku dengan senyuman terindah yang sudah lama hilang dari lekukan bibirnya. Aku pun membalas dengan hal yang sama. Aku mengambil kursi roda, tepat di sebelah tempat tidurnya. Hari ini Papa kelihatan lebih segar. Minggu lalu kata dokter, kira-kira dalam 12 hari ke depan, Papa sudah diperbolehkan untuk pulang.

Sudah 3 bulan Papa dirawat di rumah sakit, karena stroke yang ia derita. Papa memang sudah sering sakit-sakitan semenjak Mama meninggal 2 tahun lalu. Dan karena itu pula, Papa berhenti melukis, hal yang paling ia cintai. Sejak itu, aku merawat Papa sekuat tenaga seorang diri, tidak ingin kehilangan orang yang dicintai untuk kedua kali. Sampai stroke di malam itu, menjadi puncak dari segala kekhawatiranku atas diri Papa yang terlihat semakin melemah. Tapi sekarang, Papa sudah terlihat semakin membaik, walaupun masih sulit untuk berbicara. Aku senang, karena dalam beberapa hari ke depan, aku bisa membawa Papa pulang.

***

Suasana di rumah sakit ini bukan lagi hal yang asing bagiku, sudah seperti keluarga, walaupun tidak begitu lama aku sering singgah. Aku mulai mendorong kursi roda Papa pelan-pelan menuju arah taman melewati lobi rumah sakit. Di lobi, aku berpapasan dengan beberapa perawat, menyapa mereka dengan hangat dan sedikit berbincang bincang mengenai keadaan Papa.

Tapi, tiba-tiba dari arah kejauhan, terdengar suara sirine ambulance. Aku melihat beberapa para perawat beranjak dari meja administrasi, dan berlalu menuju pintu depan rumah sakit. Aku sudah sering melihat kejadian seperti ini, tapi masih sering juga bertanya dalam hati, untuk apa ada hidup bila nantinya kita harus bersakit sakit, lalu mati?

Tidak lama, tempat tidur rumah sakit dengan suara roda yang khas, seketika melintas dengan cepatnya melewati hadapanku, beserta dengan perawat yang gigih berusaha menyadarkan seseorang yang tergeletak di atasnya. Sepersekian detik aku berusaha melihat rupa seseorang itu.

Dan. Aku pun terkejut. Dia seperti laki-laki yang kulihat di bis tadi siang. Jantungku berdenyut lebih kencang dari biasanya, ada rasa takut, disertai dengan keingintahuan yang menggebu.

Apakah itu benar-benar dia?

Aku terdiam selama beberapa saat, sampai tidak ada lagi suara roda yang berputar dari tempat tidur itu. Aku benar-benar ingin tahu.

***

Setelah beberapa menit terdiam, aku melanjutkan mendorong kursi roda Papa. Papa meraba tanganku, seperti tahu bahwa ada sedikit kerasahan dalam benakku, tapi tidak bisa kujelaskan saat ini. Aku hanya dapat membalas dengan seuntai senyum ke arahnya.

***

3 jam telah terlewati, aku rasa, Papa sudah cukup menikmati jalan-jalan di taman dan keliling rumah sakit bersama denganku. Papa harus kembali beristirahat dan aku harus kembali pulang. Aku membawa Papa ke ruangannya. Di sana sudah ada perawat yang berjaga dan membantuku memapah Papa dari kursi roda kembali ke tempat tidurnya. Tak lama, Papa pun tertidur dengan pulas. Aku mengecup keningnya dan berpamitan dengannya. Lalu, perawat yang sedari tadi membantuku, mengajakku untuk berbincang di luar ruangan.

“Lusa, Papamu sudah boleh pulang. Ini ada berkas-berkas yang harus kamu baca dan kamu tanda tangani, nanti lusa kamu bawa lagi sambil menjemput Papamu ya.”

“Oh ya, terima kasih Suster. Tolong jaga Papa sampai saya jemput ya. Saya pamit pulang.”

“Pasti, La. Kamu hati-hati ya pulangnya.”

Aku tersenyum pada perawat tersebut, menyiratkan tanda terima kasih sekali lagi. Tapi, tiba-tiba perasaan resah itu timbul lagi. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya mengenai kejadian yang belum lama kulihat di lobi tadi.

“Sus, maaf, saya mau tanya, laki-laki yang tadi dibawa ambulance, dia kenapa?”

“Oh itu, kasian sekali dia, kecelakaan di jalan raya, La.”

Hah?? Kecelakaan? Jalan raya???

Rasa penasaranku mulai bertambah, dan lagi-lagi jantungku berdegup keras.

“Sekarang dia di ruangan mana, Sus??” Tanyaku dengan mata yang menyiratkan keingitahuan berlebih.

“Masih di UGD. Ada apa? Tumben kamu nanya, La.”

Tanpa menjawab pertanyaan perawat tadi, aku pun langsung membawa kakiku melangkah ke ruang yang disebutkan.

Semoga bukan dia, semoga bukan laki-laki itu. Semoga aku salah lihat.

Sampai di UGD, mataku menerawang ke seisi ruangan, mencari-cari sosok seseorang yang masih membuatku penasaran.

Lalu seorang perawat yang berjaga di ruangan itu bertanya padaku, “Cari siapa, La?”

“Mmm, laki-laki yang tadi dibawa sama ambulance tadi, Sus. Dia ada di sini kan??”

“Oh, yang itu maksud kamu?” Telunjuk perawat itu menunjuk salah satu ruangan kecil di sebelah sekat paling ujung ruangan.

Aku pun berjalan ke arahnya. Dan pelan-pelan mengintipnya dari tirai penyekat. Sekejap denyut nadiku berdegup dengan cepat. Aku berusaha mengatasi rasa kaget yang membanjiri seluruh isi otakku.

Ya Tuhan, itu dia! Laki-laki yang tadi siang kulihat di bis.

Aku memperhatikannya sekali lagi. Kondisinya sangat memprihatinkan. Luka-luka di sekujur tubuhnya memang sudah dibalut dengan rapi, namun alat bantu medis yang menempel pada tangan, hidung, dan dadanya memperlihatkan bahwa dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku memberanikan diri melihat papan identitas pasien yang menggantung di sudut tempat tidurnya.

Namanya Reynaldo, umur 20 tahun.

***

Aku pulang dengan hati yang gamang. Tadi siang, aku baru saja diam-diam menganggumi seseorang dari kejauhan. Tapi beberapa saat kemudian, aku menemukannya dalam keadaan yang memilukan. Ini takdir? Atau kebetulan?

***

Hari ini Papa pulang, aku sangat semangat menjemput Papa, sekaligus ingin melihat lagi keadaan laki-laki itu. Reynaldo. Semoga dia sudah mulai membaik.

“Papaaa, ayo kita pulaaang!” Sambutku dengan nada ceria.

Aku membantu perawat membereskan beberapa perlengkapan Papa dan memasukkannya ke dalam tas. Tanpa sadar, Papa menatapku sedari tadi. Aku pun berhenti sejenak dan melihat ke arah Papa.

“Ada apa, Pa?”

Papa menggelengkan kepala, pertanda bahwa aku tidak perlu bertanya. Tapi aku tahu, sepertinya ada hal yang ingin Papa sampaikan, namun keadaannya belum memungkinkan untuk mengatakannya.

“Yuk, Pa, udah beres nih.”

Dengan kursi rodanya, Papa dihantar keluar ruangan oleh perawat, denganku di sebelahnya. Semua perawat yang kami lewati, memberikan salam terakhir untuk Papa dan ucapan sukacita untuk kepulihannya. Seketika aku teringat oleh laki-laki itu. Apa kabarnya dia? Aku pun meminta ijin kepada perawat di sebelahku untuk menunggu. Ada hal yang harus kuketahui sebelum aku terlanjur pulang.

Aku merunduk ke arah Papa, “Pa, sebentar ya,” pintaku.

Papa mengangguk, seolah paham apa isi pikiranku.

Aku menghampiri ruang UGD dan bertanya pada perawat mengenai laki-laki yang beberapa hari lalu sempat aku kunjungi. Dan ternyata, apa yang tak kusangka-sangka, telah terjadi.

“Maaf mbak Lala, pasien yang bernama Reynaldo, baru saja meninggal tadi pagi.”

Mataku terbelalak. Aku merasakan darah yang hangat mengucur dari otak hingga kakiku. Aku sangat terkejut, hampir tidak bisa bernafas. Dia memang orang asing, tak pernah kukenal, hanya pernah kulihat. Namun rasanya, aku memang benar-benar terlambat mengenalnya. Aku berusaha menguatkan diri untuk bertanya sekali lagi kepada perawat itu.

“Hmm kalo boleh saya tau, kenapa dia bisa meninggal, Sus?”

“Dari awal dia dibawa ke sini, sebenarnya keadaan dia udah sangat buruk, La. Kasihan, dia cuma bertahan beberapa hari. Kata orang yang membawa dia ke sini, Reynaldo tertabrak mobil ngga lama setelah dia turun dari bis.”

Turun dari bis? Bis yang waktu itu? Yang aku naiki bersama-sama dengan dia???

***

Aku masih tidak menyangka, banyak hal yang tidak masuk akal terjadi di dunia ini. Tapi baru kali ini, aku benar-benar merasakannya sendiri. Sejak saat itu, setiap kali aku naik bis, aku selalu bernadai-andai diberikan kesempatan bertemu dengannya untuk kedua kalinya. Seperti pagi ini, aku menunggu bis di halte dekat rumahku. Sudah setahun lamanya berlalu setelah kejadian itu. Kali ini tujuanku bukan ke tempat yang dulu yang sering kukunjungi waktu Papa masih terbaring sakit. Tapi, aku akan menemui Papa di pameran lukisannya.

Aku melihat jam yang kupakai di tangan kiriku. Aku sudah terlambat 10 menit. Dari kejauhan aku melihat bis yang datang. Aku pun bersiap-siap untuk masuk. Sudah bertahun-tahun aku menggunakan bis sebagai kendaraan yang mengantarku ke tempat tujuan, tapi rasanya tidak pernah bosan. Aku suka dengan ambience-nya. Lusuh, hampir tidak layak pakai. Ramai dan berdesak-desakan. Namun, aku nyaman. Mungkin karena sudah terbiasa.

Aku memperhatikan orang-orang yang berada di dalam bis dan mulai mengarahkan padanganku ke sekelilingnya. Hal yang biasa kulakukan. Tapi seketika, mataku berhenti pada sosok seorang laki-laki yang berdiri di pojok pintu keluar bis. Ia memakai headset, menggunakan kacamata, mengenakan flannel kotak-kotak hijau. Aku tersentak. Ia hampir mirip seperti, Reynaldo. Tapi wajahnya sedikit berbeda. Namun sosoknya terlihat samar-samar serupa.

***

Aku turun di halte yang tidak jauh dari tempat pameran lukisan Papa dan langsung berlari memasuki gedung yang dituju tanpa memperhatikan sekelilingku. Ternyata, setelah aku sampai, sudah ramai orang-orang berlalu lalang melihat lukisan-lukisan yang terpajang pada dinding-dinding tripleks yang terpasang pada seisi ruangan. Aku melihat Papa dari kejauhan, sedang berbincang dengan salah satu penikmat lukisannya.

Aku merasa bahagia, sekaligus lega. Setelah Papa benar-benar pulih dari stroke-nya, akhirnya Papa memberanikan diri untuk melukis lagi. Dulu aku pikir, karena alasan kesehatanlah, Papa berhenti melakukan passion-nya. Namun ternyata, karena tidak adanya lagi kehadiran Mama, yang membuat Papa tidak mempunyai alasan lagi untuk melukis.

Sambil menunggu Papa selesai berbincang, aku melangkahkan kakiku menuju salah satu lukisan Papa yang sangat kusukai. Lukisan ini menggambarkan sesosok laki-laki yang sedang diam-diam memperhatikan seorang wanita di taman kota. Kata Papa, ini adalah awal mula bagaimana Papa dan Mama bisa saling mengenal. Aku memperhatikan lukisan itu sambil menyunggingkan senyum. Tiba-tiba ada suara laki-laki dari belakang yang membuyarkan perhatianku.

“Lucu ya, 2 orang asing yang tadinya ngga saling kenal, pada akhirnya bisa saling jatuh cinta.”

Aku menengok ke belakang, mencari tahu sosok yang menjadi sumber dari suara itu. Lalu, aku pun tersentak kaget, terdiam beberapa saat dengan pupil mata yang membesar, yang berisi dengan penuh keingintahuan.

Ini laki-laki yang tadi aku lihat di bis kan? Yang mirip seperti..

“Hei, jangan ngelamun gitu dong ngeliatinnya!” Kata laki-laki dengan suara yang lumayan membuatku tesentak kaget untuk kedua kalinya.

“Eh, iya. Sorry-sorry.” Aku tersenyum malu-malu sambil sedikit tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

“Kayak gitu aja kaget. Hahaha.” Tawa lepasnya sedikit membuatku kesal sekaligus menciptakan rasa penasaran di dalam benakku.

Diam-diam aku meneliti sosok laki-laki ini dari ujung kepala hingga kakinya.

“Jangan ngeliatin aja dong. By the way, kita belum kenalan.” Ia mengulurkan tangannya, mengajakku untuk berjabat tangan dengannya.

“Kenalin aku Reynaldi, panggil aja Aldi.”

Aku pun tertegun.

Reynaldi? Kenapa namanya hampir sama dengan Reynaldo?

“Aku Clara. Panggil aja Lala.” Sebutku dengan ramah.

“Oh ini Lala, anaknya om Suryo?”

Eh? Kok dia kenal aku?

“La, kamu sudah datang?” Suara Papa menyadarkanku. Rupanya sudah sedari tadi Papa berjalan ke arahku, namun aku terlalu tenggelam di dalam pikiranku.

“Eh, Pa! Iya, aku udah dateng daritadi, cuma waktu aku mau samperin Papa, Papa lagi ngobrol sama salah satu pengunjung, jadi aku jalan-jalan sendiri dulu di sini.”

“Iya ngga apa-apa, La. Eh, kamu sudah kenal dengan Aldi?” Mata Papa mengisyaratkan aku untuk berkenalan dengan sosok laki-laki di hadapanku.

“Sudah om, saya sudah kenalan dengan Lala barusan.” Ucap Aldi yang mendahuluiku membalas pertanyaan Papa.

“Baguslah kalau begitu. Lala, Aldi ini akan membantu Papa selama pameran ini berlangsung. Jadi, kamu akan sering bertemu dengan dia.”

Aku menyiritkan mataku, ada rasa kebingungan serta heran yang menjalar di seluruh bagian otakku. Sekaligus sedikit rasa senang yang timbul pada perasaanku. Aneh rasanya.

“Papa siap-siap speech buat sambutan dulu ya, La. Oh ya, ajak Aldi berkeliling ya.” Papa pun pergi dari hadapanku dan Aldi.

***

Siapa sebenarnya laki-laki ini? Kenapa dia hampir sama dengan laki-laki yang ku temui setahun lalu?

Pertanyaan itu tidak henti-hentinya mendominasi pikiranku.

“Hei! Kamu tuh lucu ya, suka banget ngelamun-ngelamun ngga jelas. Udah gitu, sambil ngeliatin aku. Jangan-jangan kamu suka ya sama aku?” Lagi-lagi Aldi menganggu lamunanku.

“Jangan sok tau kamu!” Ucapku dengan nada kesal bercampur malu.

“Hahahahaha. Iya iya maaf. Eh, kamu ngga penasaran kenapa aku bantuin pameran Papa kamu?”

“Hmm, ya penasaran sih. Abis kan aku ngga kenal sama kamu, Papa juga ngga cerita kalau bakal ada yang bantuin pameran Papa, selain aku.”

“Sebenernya dari awal aku udah mau jelasin, cuma karena ngeliat sikap aneh kamu yang kayaknya kaget banget sama aku, ya aku ngga jadi ngomong deh.”

“Yaudah-yaudah, sekarang jelasin deh, kamu itu kenapa bisa di sini?”

Aku bertanya dengan penuh harapan bahwa aku bisa mendapatkan semua jawaban dari kebingunganku sedari tadi.

“Aku sebenernya ngga terlalu suka lukisan, apalagi dateng ke pameran lukisan kayak gini. Tapi semenjak adik aku udah ngga ada, aku janji sama diri aku sendiri, buat ngenal semua hal yang dia suka, yang dulu sempet aku sepelein.”

“Adik kamu? Maksudnya?”

“Iya, jadi adik aku itu suka ngelukis. Cuma dulu aku ngga percaya sama apa yang dia lakuin bisa ngebuat dia jadi orang yang sukses. Orang tuaku juga selalu nuntut adikku untuk ngelepas mimpinya jadi pelukis. Terus karena adikku ngga tahan sama tekanan orang tuaku, dan aku pun ngga pernah ngedukung dia, akhirnya dia memutuskan untuk pindah dari rumah, berusaha untuk hidup sendiri. Semenjak itu adikku menghilang, orang tuaku yang tadinya ngga peduli, lama-lama jadi khawatir. Aku pun merasa bersalah karena ngerasa gagal jadi kakak yang harusnya ngejagain dia. Aku berusaha nyari dia. Sampai suatu saat, akhirnya aku ngedapetin nomer handphone-nya dari salah satu teman lamanya, dan aku hubungin dia. Tapi dia ngga ngerespon telfon, bahkan sms dari aku. Dan ternyata, malamnya, aku mendapat kabar bahwa adik aku kecelakaan. 2 hari setelah itu, adikku meninggal. Di situ aku hancur. Sejak saat itu, aku ngga bisa maafin diri aku sendiri. Aku ngerasa jadi salah satu orang yang udah ngerusak hidup dia, dan ngga bisa buat memperbaikinya. Aku sadar, selama hidup dia, aku ngga terlalu mengenal dia selayaknya kakak mengenal adiknya. Jadi, semenjak itu, aku nyoba untuk nyari tau segala hal tentang kehidupan melukisnya. Dan ternyata, adikku udah lama banget menjadi penganggum lukisan-lukisan Papa kamu. Selama setahun ini aku cari tahu mengenai Papa kamu, dan karya-karyanya, tapi baru beberapa minggu lalu dapet kesempatan buat ketemu sama Papa kamu. Dan setelah mendengar mengenai adikku, beliau turut prihatin, dan ngajakkin aku buat berpartisipasi di acara pameran ini. Jadi, ya begini cara aku untuk lebih dekat dengan adik aku. Menyelami kehidupan dia, walaupun aku tahu, semuanya udah terlambat.”

Tunggu, tunggu… Jangan-jangan yang Aldi maksud itu.. Apa mungkin?

Aku bertanya-tanya dalam diri, mencurigai sosok yang diceritakan oleh Aldi.

“Di, sorry ya, soal adik kamu. Tapi boleh ngga aku nanya sesuatu?”

“Iya boleh, La, apa?”

“Nama adik kamu itu, siapa?

***

6 bulan kemudian, di halte bis.

“Di, tau ngga, Papa pernah bilang, kalo dia mulai ngelukis lagi setelah sembuh, karena dia udah nemuin alasan untuk bangkit lagi dan ngewujudin mimpinya untuk bikin pameran. Kamu tau ngga alasannya apa?”

“Apa emang, La?”

“Papa ngeliat diri Mama di dalam aku, waktu aku ngejenguk Papa terakhir kali di rumah sakit setahun yang lalu. Aneh sih. Cuma pas aku tanya kenapa bisa. Papa cuma bilang, mungkin saat itu, tanpa aku sadarin, aku lagi jatuh cinta. Sama kayak pertama kali Mama jatuh cinta sama Papa. Dan Papa ngerasa, kalo dia dikasih kesempatan lagi untuk merasakan kehadiran Mama untuk kedua kalinya, lewat diri aku.”

“Sama kayak kamu ngeliat Reynaldo, ada di dalam diri aku?”

-end-

“Terkadang, kita merasa terlambat untuk mengenal, atau bahkan mencintai seseorang pada kesempatan yang pertama. Namun Tuhan, dengan segala kebijakan-Nya, tanpa kita sadari, terkadang pula memberikan kita kesempatan yang kedua untuk mengenal seseorang itu, walau dalam entitas yang berbeda.”

-by: @natashyaclaudia

Kali Ini Mungkin Memang Sudah Waktunya Untuk Merelakan

Masih terasa lekat, bagaimana rasanya kepalaku merekat pada dadamu yang hangat. Aku melingkarkan kedua tanganku pada tubuhmu yang kuat. Sekejap aku menikmati rasa nyaman pada pelukanmu yang semakin mendekap.

Aku ingat poros matamu, menatapku dengan sungguh-sungguh, tanpa jeda akan ragu. Berusaha meyakinkanku, bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang menempati ruang khusus di hatimu.

Caramu mengulum seuntai senyum, selalu berhasil menghapus sendu yang sekelebat bersarang sebelum kita sama-sama saling bertemu.

Segelintir candaan yang sering kamu lontarkan padi hari-hari terburukku membuatku candu. Seakan-akan salah satu misi terbersarmu adalah selalu menghasilkan warna di setiap gelak tawaku.

Saat itu, kita seperti sedang menari dalam dunia yang orang lain tak pahami. Aku sungguh bergembira, karena kamu datang dan menggenggam erat-erat jari tanganku, hanya untuk membawa kita sampai pada sebuah tujuan terakhirmu.

Tapi kini, segalanya hanya sebuah memori. Dan aku rindu. Mungkin ini yang tidak pernah benar-benar aku jelaskan kepadamu.

Di tiap kali otakku memvisualisasikan bagaimana sederatan kenangan-kenangan itu bekerja, aku menutup mulutku diam-diam. Hanya sanggup berkata-kata dengan diri sendiri, mengingat bahwa ternyata kamu telah memilih untuk pergi.

Awalnya aku terluka, karena egomu yang keras, mempersilakan kamu untuk meninggalkan segelintir janji-janji yang pernah kamu sebatkan, yaitu perihal bahagia bersama hingga di masa tua, dan aku sudah terlanjur percaya.

Tapi waktu membasuh segala kecewa dan menggantinya dengan sejumlah rasa rindu yang menurutku akan menjadi sia-sia, karena kamu tidak akan mau kembali hanya karena aku masih begitu cinta.

Pernah beberapa kali aku berusaha untuk mengejar, menyematkan sabar dan mengucap doa dalam-dalam, berharap kamu bersedia untuk memulai lagi cerita. Tapi hanya sekian banyak kata tidak yang menguak dari bibirmu yang terlalu manis untuk menolak.

Aku lelah untuk terus menerus menawarkan harga diri, hanya untuk bersih keras membawamu kembali. Mungkin kini sudah saatnya aku berhenti, membebaskan hati, dan membenamkan keinginan untuk memilikimu kedua kali. Karena aku pun berhak untuk merasakan bahagia, walaupun tidak bersama-sama denganmu lagi.

 

-by: @natashyaclaudia

Patah Yang Terakhir Kali

Jangan pernah tanya lagi bagaimana kabarku. Kita hanya sebuah cerita lalu yang kamu paksa untuk kusudahi. Seperti katamu, aku hanya seorang mantan. Seperti katamu, aku tidak boleh terus menerus terbawa perasaan.

Kamu sudah mematahkan sebuah hubungan yang tak pernah lelah kucoba untuk kubentuk kembali. Kamu telah mengasah kembali hati yang tumpul menjadi runcing dan bersiap untuk menusuk segala kata-kata ilusi yang pernah kamu jejalkan.

Jangan pernah kembali untuk memulai dengan embel-embel pertemanan omong kosongmu. Kita tidak akan pernah menjadi baik-baik saja, entah itu ketika masih menjadi kekasih, atau pun seperti saat ini, tanpa hubungan apapun selain masih terikat dengan sejumput memori.

Kamu bilang, aku belum terbiasa patah hati, belum terbisa kehilangan, belum terbiasa akan segala hal yang tertinggal setelah sebuah perpisahan. Dan dengan bangganya, kamu menunjukkan kelihaian dirimu perihal terbiasa melupakan, karena sudah terlalu sering merasakan.

Berbahagialah dan bersyukurlah. Karena Tuhan begitu menyayangimu dengan tidak jarang mengikis hatimu yang katanya penuh dengan kerinduan untuk mencintai, dengan banyak dan dalamnya kehilangan-kehilangmu sebelum aku.

Mungkin sekarang hatimu sedang merayakan kelegaan karena berhasil melepaskanku. Tapi ini bukan sebuah ajang kompetisi, siapa yang lebih dulu bahagia, atau siapa yang masih terdampar dalam pedihnya ditinggalkan. Dan kamu, tidak seutuhnya menjadi seorang pemenang. Karena sedari awal, aku sengaja menarik diri dari kesenangan-kesenangan kecilmu, membiarkanmu kembali tersenyum dan tertawa karena merasa sudah siap mencintai yang lainnya.

Silakan menikmatinya, sayang. Aku memberikan tempat yang kamu sebut layak untuk tinggal, yaitu kamu dan dunia yang kamu ciptakan sendiri. Suatu saat, aku aku akan berterima kasih untuk segala patah yang pernah kamu sebatkan. Suatu saat, aku akan bergembira dengan seseorang yang dengan mudahnya kamu sebut sebagai alasan lebih baik daripada segala yang ada pada dirimu.

Tapi sekarang aku memilih sendiri dan menolak untuk datang lagi hanya untuk basa basi. Dekat denganmu sudah cukup membuat luka, karena palsu yang kamu jejalkan begitu menebar noda.

Persiapkanlah matang-matang hidup yang kamu sebut dengan bahagia. Suatu hari nanti, mungkin Tuhan akan mempertemukan masing-masing kita dengan cara yang berbeda, pada saat aku atau pun kamu, tidak lagi dalam keadaan saling jatuh cinta.

 

-by: @natashyaclaudia